6 Strategi Sukses Mendapatkan Beasiswa

Tanpa mengenal lelah dan bosan, Abellia Anggi Wardani berulang kali mendaftar beasiswa sejak awal menjadi mahasiswa. Bukan sekadar mengejar tambahan biaya, lebih dari itu, beasiswa bagi gadis kelahiran 12 Desember 1989 itu bisa digunakan untuk mengejar impiannya mengenyam pendidikan di luar negeri. Hasilnya, dalam kurun waktu 10 tahun, sudah 12 beasiswa dan grant digenggamnya. Saat ini, Abel—panggilan akrabnya—sedang berada di Belanda untuk menyelesaikan studi program PhD dalam bidang Culture Studies, Universitas Tilburg, Belanda, yang diperolehnya melalui beasiswa LPDP.

Wanita lulusan Sastra Prancis, Universitas Indonesia (UI) ini mengenang ketika dirinya sering berkumpul dengan teman-teman di asrama UI dan sering membicarakan soal beasiswa saat makan malam, tentang jenis, persyaratan, serta tip dan trik mendapatkannya.

“Dari situ saya mulai termotivasi untuk mendaftar beasiswa, guna mendapat tambahan pemasukan dan menunjang kuliah di UI. Dan, begitu lulus S1, beasiswa seperti jalan utama untuk mencapai impian kuliah di luar negeri,” cerita wanita yang menyebut dirinya sebagai “Indonesian fermented soybean cake vs Javanese chicken cooked in coconut milk vs French croissant vs Dutch cheese, a passionate cook who loves to travel.”

Beasiswa pertama yang diperoleh Abel adalah beasiswa Pengembangan Potensi Akademik (PPA) dari UI. Berhasil mendapatkan satu beasiswa memotivasi Abel mencari beasiswa lagi. Beasiswa kuliah di luar negeri pertamanya adalah gabungan dari beberapa beasiswa.

“Di tahun terakhir S1, saya mendapat kesempatan untuk menempuh program double degree yang merupakan kerja sama antara UI dan Université d’Angers, Prancis. Di sana saya mengambil jurusan Manajemen Pariwisata. Untuk bisa berkuliah di Prancis, saya mendapat bantuan beasiswa dari Pemerintah Prancis (Bourse du Gouvernement Français) untuk biaya visa, uang kuliah, dan asuransi kesehatan. Sedangkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, saya mendapat beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Budaya dalam bentuk Beasiswa Unggulan, dan tiket keberangkatan saya dibantu juga oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya melalui program Bantuan Keberangkatan Luar Negeri.”

Abel pun mengungkapkan bahwa hambatan umum yang sering ditemukan adalah persyaratan administratif, yang kadang berhubungan dengan penilaian substantif. Misal, ketika ingin mendaftar ke universitas di Prancis, Abel harus menerjemahkan semua dokumen ke Bahasa Prancis dengan jasa penerjemah bersumpah. Begitu juga ke negara-negara lain. Selain itu, mesti bolak-balik ke penerjemah tersumpah, kampus, dan kedutaan besar untuk legalisir. Proses ini menguras tenaga dan menyita banyak biaya.

Kini, pengalaman Abel mencari dan mendapatkan beasiswa telah dituangkan dalam sebuah buku yang ditulisnya sendiri berjudul Meraih Mimpi dengan Beasiswa. Dan Abel menuturkan beberapa strategi supaya sukses mendapatkan beasiswa yang sedang diincar, sebagai berikut:

1/ Rajin mencari pengumuman beasiswa

Ketika masih kuliah di UI, Abel rajin cek papan pengumuman beasiswa. Cari beasiswa yang sekiranya dapat dipenuhi persyaratannya. Pertimbangkan cakupan biaya beasiswa yang ditawarlan dan tentunya, persyaratan yang diminta menjadi salah satu acuan utama untuk memilih beasiswa yang didaftar.

2/ Cari tahu jurusan, universitas, dan negara yang dituju dan dianggap cocok untuk ditinggali

Jangan malas baca sebanyak-banyaknya pengalaman orang lain tentang kuliah atau traveling ke negara yang dituju (misal, melalui blog atau nonton vlog). “Anda akan menghabiskan sebagian hidup di sana, jangan sampai hal-hal kecil justru mempengaruhi pengorbanan tersebut dan membuat Anda tidak dapat memaksimalkan potensi diri.”

3/ Patuhi aturan

Baik itu mengenai deadline pengumpulan berkas, jadwal wawancara, ataupun urutan berkas yang harus dipatuhi. Tentunya yang paling penting juga adalah kelengkapan berkas yang diminta. “Jadi, cek berkali-kali sebelum mengumpulkannya.”

4/ Daftar beberapa beasiswa sekaligus bisa memperbesar peluang mendapatkan kesempatan beasiswa

Seperti menebar jaring di laut, semakin sering dan luas jangkauan jaring, semakin besar pula kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Misal, ketika tidak tembus (beasiswa) LPDP, tapi bisa mendapat beasiswa STUNED. Ketika ternyata lulus kedua-duanya atau lebih dalam waku bersamaan, harus pilih salah satu. Jika tidak, berarti Anda melanggar aturan dan bisa dihentikan beasiswanya jika ketahuan. “Ingat, sebaik-baiknya menyimpan bangkai, akan tercium juga,” pesan Anggi.

5/ Persiapkan diri jauh-jauh hari

Siapkan semua dokumen dari mulai transkrip nilai, surat motivasi, surat rekomendasi, tes bahasa. Kalau bisa sering-sering membaca dan latihan menulis esai ataupun surat motivasi karena nantinya akan membutuhkan skill ini ketika mendaftar beasiswa ataupun universitas. Luangkan waktu minimal 1-1,5 tahun untuk masa persiapan tadi. Masa ini mencakup proses pengurusan surat-surat, mencari surat referensi dan letter of acceptance dari kampus yang dituju. Jika ada persyaratan kemampuan berbahasa, waktu 1-1,5 tahun tadi bisa digunakan untuk mengejar target skor bahasa tadi.

6/ Berusaha, berdoa, dan mencari keberuntungan

Tiap kali ditanya, satu hal yang perlu ditanamkan ke pemburu beasiswa adalah penerimaan atas kegagalan. Jangan sampai jadi orang yang mudah menyerah ketika dihadapkan pada tantangan apalagi kegagalan. “Jalan menuju beasiswa kebanyakan sangat terjal, jadi persiapan mental untuk gagal menjadi salah satu prasyarat untuk mendaftar beasiswa,” tegas Anggi.