Perhatian Hal Kecil dan Sederhana dalam Wawancara dan LGD Beasiswa

Ada banyak hal kecil yang perlu diperhatikan saat proses seleksi, khususnya yang berkaitan dengan gaya berkomunikasi, misalnya bahasa tubuh, intonasi suara, ekspresi muka dan lain-lain. Unsur-unsur tersebut merupakan cerminan dari kepribadian seseorang yang dapat mempengaruhi juri, baik saat seleksi maupun Leaderless Group Discussion (LGD). Ada baiknya kandidat yang sudah mendapatkan panggilan wawancara melakukan beberapa kali simulasi wawancara atau LGD sehingga dapat mengendalikan hal-hal kecil namun krusial di depan.

Agar hal-hal tersebut dapat terkontrol, berikut beberapa tips yang bisa diingat sebelum menghadapi proses seleksi.

1. Senyum dan bersalamanlah dengan pihak penilai saat berkenalan

Senyum merupakan bahasa universal yang menunjukkan bahwa seseorang menghargai keberadaan orang lain. Lebih dari itu, senyum adalah hal yang paling gampang kita lakukan. Tidak ada salahnya kita memberikan senyum terbaik kepada orang lain, apalagi tim penilai kita.

Senyum merupakan hal penting yang harus dilakukan sejak awal perkenalan dan ketika wawancara berakhir. Dengan bersalaman dan tersenyum, Anda telah menunjukkan kepribadian yang ramah dan penuh percaya diri. Selain itu, senyuman dapat membantu menurunkan rasa gugup atau tekanan sebelum wawancara berlangsung.

Jika diperlukan, boleh-boleh saja Anda berlatih senyum dan salam sebelum hari wawancara. Latihan tersenyum dan bersalaman bisa dengan melihat atau mengamati tokoh atau publik figur yang menginspirasi ketika mereka bersalaman dan berinteraksi. Atau, tersenyumlah yang ramah dan bersalamanlah yang mantap, seolah Anda bertemu dengan sahabat lama.

2. Jangan show off, apalagi berkoar-koar

Wawancara memang suatu proses saat kandidat dapat mempromosikan dirinya. Akan tetapi, tetaplah tenaag dan promosikanlah diri dengan cara yang elegan. Hal esensial yang harus diingat adalah bahwa lembaga beasiswa mencari cendekiawan muda yang memiliki potensi di masa depan. Apakah cendekiawan itu?

Secara harfiah, cendekiawan dapat diartikan sebagai orang yang terpelajar, terdidik, atau yang diangap sebagai kaum cerdik. Oleh karena itu, tentunya seorang cendekiawan akan meyakinkan pihak pewawancara dengan jawaban yang “berisi” dan mudah dipahami oleh pihak pewawancara. Jawaban atau pendapat yang dilontarkan juga to the point, tidak berputar-putar atau melebar ke mana-mana.

Tidak sedikit para kandidat terlalu bersemangat promosikan diri dengan menunjukkan kualitas-kualitas nasionalisme sehingga tanpa disadari intonasi suaranya meninggi seperti sedang berorasi. Hal tersebut tidaklah elegan, kecuali jika Anda diminta pihak penilai untuk menyanyikan lagu daerah atau lagu kebangsaan.Seorang cendekiawan menunjukkan kualitas nasionalisme atau cinta tanah airnya bukan dengan berkali-kali mengatakan “Saya ingin membangun bangsa” atau “Saya cinta Indonesia”. Seorang cendekiawan akan menunjukkan kualitas-kualitas tersebut dari ide, solusi, atau rencananya yang konkret, realistis dan matang, yang berhasil disampaikannya dengan baik saat wawancara. Oleh karena itu, saat wawancara berlangsung, sangat penting bagi Anda untuk tetap rileks dan berfokus.

3. Bahasa tubuh yang kalem

Pastikan Anda menunjukkan bahasa tubuh yang kalem. Ketika duduk di kursi, bersandarlah dengan cukup tegak dan nyaman. Kepala jangan terlalu membungkuk ke depan atau terlalu bersandar ke belakang. Ketika mendengarkan pertanyaan atau menjawabnya, anggota tubuh seperti kaki, tangan, dan bahu sebaiknya tidak banyak digerakkan, seperti menggoyang-goyang lutut,tangan menggaruk-garuk kepala dan menyentuh muka atau bahu terlihat tidak stabil dan bergoyang-goyang. Hal tersebut akan membuat suasana tidak nyaman.

Tidak apa-apa jika Anda sedikit memainkan tangan ketika sedang berusaha menjelaskan sesuatu. Namun ja­ngan sampai menunjuk-nunjuk. Selain itu, jangan pernah melipat tangan di depan dada atau perut karena hal itu memberikan kesan kepribadian yang tertutup.

Sebenarnya, mengendalikan bahasa tubuh dapat dimulai dari mengendalikan mood atau perasaan terlebih dahulu. Ka­rena itu, sekali lagi, sangat penting untuk tetap berfokus dan rileks selama wawancara berlangsung.