Persiapan Dalam Meraih Beasiswa

Jika tujuan perjalanan seseorang telah jelas, barulah dia da­pat mengidentifikasi persiapan apa saja yang diperlukan. Dia akan mengetahui bekal dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya. Jadi, sudahkah Anda memiliki tujuan?

Ke mana Anda akan melanjutkan kuliah? Mengapa? Apa yang akan Anda lakukan setelah lulus? Apa mak­nanya bagi Anda?

Hidup jangan dibiarkan berlalu tanpa perencanaan – Prof. Alwi Abdurrahman Shihab

Persiapan sangat menentukan hasil akhir. Bahkan seorang Christiano Ronaldo yang notabene tidak diragukan lagi ke­mampuannya, tidak pernah berhenti berlatih hanya untuk pertandingan 90 menit demi menentukan kemenangan timnya. Dia juga berlatih lebih keras daripada pemain lainnya. Itu pun tidak hanya persiapan fisik dan keterampilan yangl dilakukan, tetapi juga persiapan lain, seperti mental, komunikasi dalam tim, pemahaman strategi, adaptasi terhadap iklim lapangan, asupan gizi, hingga hal-hal yang bersifat teknis (administrasi dan peralatan).

Jika Anda punya tujuan besar, Anda harus rela untuk melakukan persiapan yang besar juga. Dalam perihal men­dapatkan beasiswa, tentu ada banyak yang harus disiapkan. Namun sebelum berbicara mengenai persiapan teknis, ada persiapan yang sangat fundamental untuk disinggung, yaitu persiapan mental. Jika seseorang tidak punya kesiapan men­tal untuk mencapai tujuannya, dia pun akan sungkan untuk menyiapkan hal-hal lainnya.

Mental berkaitan dengan keadaan pikiran seseorang, yang dipengaruhi oleh apa yang seseorang percaya dan bagaimana dia memandang segala sesuatu. Hal inilah juga yang menentukan kepribadian dan watak seseorang serta keberhasilannya dalam mencapai tujuan.

Secara umum, ada tiga hal yang wajib dikondisikan pada mental seseorang dalam perjuangannya meraih cita-cita. Ber­ikut ketiga hal tersebut.

1. Keberanian menentukan sikap

Jika seseorang ingin kehidupannya mengalami perubah­an, dia harus berani menentukan sikap baru terhadap apa yang akan dia jalani. Dia harus berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyaman, sebab hal itulah yang mem­buat seseorang bertumbuh dan berkembang.Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan, tetapi belum menemukan kesempatan dan waktu yang tepat untuk mengubah jalan hidupnya. Hal seperti itu masih bisa kita maklumi. Yang menyedihkan adalah saat sese­orang sudah punya kemampuan dan kesempatan di de­pan matanya, dia malah tidak memiliki keberanian untuk mengubah apa-apa.

Umumnya, ketakutan menghadapi risiko menjadi pe­nyebab utama seseorang tidak berani melangkah. Per­tanyaan seperti “Nanti bagaimana kalau gagal?” kerap menyurutkan langkah kita di awal. Menyikapi ketakutan seperti itu sebenarnya cukup sederhana, seseorang hanya perlu bertanya kepada diri sendiri : Bagaimana kalau be­nar-benar gagal? Apa dia akan cacat, cedera, atau bahkan kehiangan nyawa? Atau apakah semua keluarganya akan terkena musibah, mendadak miskin, atau terlukai? Selama risikonya bukanlah hal-hal demikian, tidak seha­rusnya seseorang berlebihan dalam rasa takut sehingga tidak berani melangkah.

Dalam hal berburu beasiswa, apa kira-kira risikonya jika gagal? Bagaimana jika ditolak kampus tujuan atau tidak lolos seleksi beasiswa? Atau bagaimana jika tidak lolos tes bahasa Inggris? Paling hanya rugi waktu, uang, dan tenaga, bukan? Lagi pula jika gagal sekali, bisa mencoba lagi dengan persiapan yang lebih matang, atau memulai rencana lain, seperti bekerja dulu, berbisnis dulu, dan lain-lain.

Selain itu, jika diperhatikan, risiko yang diterima ketika gagal tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mimpi yang terwujud ketika berhasil : pengetahuan, petualangan, dan kebanggaan. Dengan kata lain, penderitaan dari kegagalan berburu beasiswa masih bisa ditanggung dan hanya sesaat, sedangkan keberhasilannya akan membuahkan manfaat berharga untuk jangka panjang.

‘Seorang pemberani bukanlah orang yang tidak mengenal rasa takut. Pemberani berarti tidak berhenti apalagi mundur ketika berhadapan dengan rasa takut.’

2. Kepercayaan Diri

Dalam mencapai tujuan, kepercayaan diri merupakan hal yang sangat penting karena karakter seseorang menjadi berkesan jika dia percaya diri. Dengan begitu, dia pun akan lebih mudah meyakinkan orang lain tentang gagasan, ide, maksud, atau pendapatnya terhadap sesuatu ketika berkomunikasi. Dalam berburu beasiswa misalnya, kemampuan komunikasi sangat penting karena inilah yang menentukan apakah rencana dan tujuannya dapat meyakinkan pihak pemberi beasiswa saat wawancara atau idenya dapat diterima saat seleksi LGD (Leaderless Group Discussion). Tentu tidak saat itu saja kepercayaan diri berperan. Masih ada banyak proses interaksi di dalam perjalanan berburu beasiswa, bahkan sebelum proses se­leksi berlangsung, misalnya meminta rekomendasi dosen, berkomunikasi dengan pihak kampus, mengikuti kursus bahasa Inggris, belajar dengan tutor atau mentor, dan lain-lain.

Kepercayaan diri juga berpengaruh saat pengambilan keputusan. Orang yang memiliki kepercayaan diri lebih jeli dalam melihat dan memanfaatkan kesempatan baik yang tersedia. Dia tidak ragu-ragu menentukan sikap karena memiliki penilaian yang jelas terhadap dirinya sendiri.

Banyak orang menganggap bahwa percaya diri adalah perasaan nyaman terhadap diri sendiri atau ketika melakukan sesuatu. Namun, sebenarnya itu hanya salah satu dampak dari adanya kepercayaan diri itu sendiri. Rasa percaya diri dapat diartikan sebagai rasa berharga dan bangga atas apa yang seseorang miliki dalam dirinya : potensi, kelebihan, dan hal baik lainnya. Dia pun tahu persis seberapa jauh kemampuannya sehingga memiliki keyakinan ketika berhadapan dengan berbagai tantangan. Ini sangat berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan bagaimana lingkungan yang akan dihadapinya.

Dengan melihat kaitan di atas, maka sudah selayaknya setiap orang mengembangkan kepercayaan dirinya, dimulai dengan mengubah sudut pandang terhadap diri sendiri. Setiap orang harus percaya bahwa dirinya memi­liki keunikan dan kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki orang lain, bahwa dirinya juga punya potensi dan memi­liki peran penting tertentu di dunia ini. Setiap orang ha­rus percaya bahwa dirinya layak mendapatkan hal terbaik serta meraih cita-citanya. Dengan kata lain, setiap orang harus belajar mencintai diri sendiri dengan memberikan hal-hal positif pada dirinya, serta berfokus mengembangkan kelebihan dan kebaikan dirinya.

Umumnya, orang merasa minder sebab dia memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri. Hal itulah yang membuat mereka membatasi diri, dengan langsung me­rasa “tak yakin” atau “tak bisa” saat membaca baris-baris persyaratan beasiswa di situs internet, misalnya. Biasanya hal tersebut muncul karena ada perasaan bahwa dirinya tidak sehebat orang lain, penilaian buruk orang lain terhadap dirinya, ataupun kesalahan berat di masa lalunya. Apa pun itu, yang jelas membuat dirinya lebih berfokus pada hal negatif.

Sering kali seseorang terlalu peduli dengan kekurang­an diri sendiri. Padahal kenyataannya, sejelek-jeleknya kekurangan tersebut, orang lain tidak sepeduli itu. Bahkan mereka mungkin sama sekali tidak tahu. Jadi, pikiran jelek tentang diri sendiri sebenarnya hanya sebuah ilusi, dan ini bisa berkembang atau berkurang tergantung pada seberapa besar seseorang menanggapinya. Jika seseorang terlalu memusingkannya, berarti dia meng­anggap bahwa dia benar-benar buruk dan tak pantas mendapatkan hal baik. Oleh karena itu, setiap orang harus punya kendali terhadap apa yang dia pikirkan dan memaknai setiap momen dalam hidupnya secara positif.

Seseorang terkadang tak bisa mengendalikan du­nia luar atau apa yang akan menimpa dirinya. Namun, dia selalu bisa mengendalikan apa yang dia pikirkan dan memaknai setiap kejadian yang terjadi.

‘Bahkan ketika kehujanan ,orang-orang bisa mengutuk dan memaki awan dan langit. Memandang hujan sebagai hal yang merepotkan dan menghalangi’

atau

‘Dia bisa menari, bernyanyi, dan tersenyum di bawah hujan. Melihatnya sebagai memori masa kecil ketika dulu dia bermain hujan bersama teman-temannya.’

Langkah berikut untuk menambah rasa percaya diri adalah dengan mengubah sudut pandang atas tantangan atau lingkungan yang akan dihadapi. Caranya sederhana, yaitui dengan menambah ‘jam terbang’. Sebagai contoh, jikal kita ingin percaya diri ketika wawancara, lakukan simulasi wawancara sesering mungkin sebelum wawancara asli dimulai. Atau, kalau kita ingin percaya diri saat menghadapi tes bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS) maka sering-seringlah melakukan simulasi tes tersebut. Dengan demikian, kita dapat mengukur dan mengantisipasi keadaan di lapangan. Perbanyak jam terbang hingga kita terbiasa dan akhirnya bahwa kita bisa mengatasi tantangan tersebuti

Namun, perlu diingat juga bahwa kita pun tidak boleh terlalu percaya diri (overconfident). Rasa percaya diri bagai­kan pedang bermata dua. Di satu sisi dapat meningkatkan performa di sisi lain, jika terlalu berlebihan, dapat menimbulkan kesan arogan bahkan merendahkan orang lain. Oleh karena itu, rasa percaya diri juga harus dibarengi dengan si­kap mawas diri atau kepekaan yang dapat ditumbuhkan de­ngan memperbanyak pergaulan, latihan, diskusi, dan evalua­si dengan orang lain ataupun mentor.

3. Kontrol Emosi

Yang dimaksud kontrol emosi di sini adalah kestabilan pe­rasaan seseorang ketika berhadapan dengan lingkungan, tantangan, ataupun kesulitan baru. Hal ini mengacu pada bagaimana responsnya secara psikologis terhadap hal-hal tersebut : apakah dia akan panik, meledak-ledak, atau te­tap tenang. Hal tersebut akan sangat berkaitan dengan bagaimana dia bersabar sehingga dapat menikmati pro­ses yang dijalaninya. Orang dengan kontrol emosi yang baik tidak akan buru-buru dalam mencapai tujuan. Dia akan realistis dalam rencana dan tindakannya sebab dia mampu berpikir jernih, tanpa terintimidasi oleh perasaan­nya sendiri.

Kontrol emosi juga memengaruhi kualitas interaksi atau komunikasi yang dibangun seseorang dengan indi­vidu lainnya. Kontrol emosi seseorang akan diuji ketika menghadapi konflik atau perbedaan pendapat dengan orang lain. Jika seseorang mampu menghadapi hal terse­but dengan tenang, dapat dikatakan bahwa dia memiliki kematangan emosi. Dampaknya, orang lain akan terasa nyaman ketika berinteraksi dengannya sehingga dia pun mudah diterima dalam pergaulan atau lingkungan sosial.

Dalam seleksi beasiswa, khususnya saat wawancara kematangan emosi kandidat juga akan dinilai. Dari emosi yang terlihat saat wawancara, dapat dinilai apakah seorang kandidat sudah memiliki kesiapan substantif yang bagus : Apakah dia benar-benar mengerti tentang program studi yang dipilihnya? Apakah rencananya masuk akal? Dalam kasus ini, kesiapan tersebut akan tampak saat dia merespons pertanyaan : Apakah dia tampak fokus, tenang, dan kalem? Ataukah gugup, gelisah, dan tidak nyaman? Selain itu, dapat dilihat juga apakah karakternya sudah cukup dewasa sehingga bisa beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru saat melanjutkan studi : Bagaimana pembawaannya saat menjawab pertanyaan dan menyampaikan pendapat? Bagaimana perilakunya saat di bawah tekanan? (dengan diberikan pertanyaan aneh-aneh, misalnya) Bagaimana emosinya ketika ditanya hal-hal personal? Bagaimana sikap dia terhadap pandangan yang berseberangan?

Orang dengan kontrol emosi yang baik tidak akan gampang terintimidasi oleh tekanan-tekanan saat wawancara. Apalagi saat menghadapi pertanyaan yang tidak terduga atau tidak dipersiapkan sebelumnya. Dia akan tetap tenang sehingga bisa berpikir, jernih sebelum memberikan jawaban.

Untuk menyikapi emosi negatif, seseorang harus mampu mengidentifikasi emosi tersebut sebelum emosi itu muncul ke permukaan. Dengan begitu, setidaknya sese­orang dapat lebih sadar atau mawas diri agar tidak ter­buru-buru mengambil keputusan atau tindakan yang sa­lah. Minimal dengan cara seperti itu, dia bisa meredakan emosinya hingga mampu berpikir dengan kepala dingin.

Seseorang juga butuh teman untuk bercerita dan ber­tukar pikiran saat dirinya gundah, khususnya saat meng­hadapi kesulitan atau tantangan baru yang rumit. Peran teman sangat penting untuk menenangkan perasaan yang kacau. Teman juga dapat memberikan solusi yang tepat ketika seseorang dilanda masalah yang sulit.

Dalam konteks mengantisipasi perasaan negatif saat seleksi beasiswa, pengalaman atau ‘jam ter­bang’ akan sangat berpengaruh. Misalnya saat wa­wancara atau seleksi LGD, tentu dengan sering berlatih sebelumnya, seseorang akan lebih mudah mengatasi pe­rasaan negatif yang muncul: gugup, tertekan, canggung, dan lain-lain. Selain itu, tahap ini lebih mudah dilalui jika seseorang memiliki pengalaman berorganisasi, ber­negosiasi, mengajar, berdiskusi, menjadi sukarelawan, dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman tersebut ditambah pertemanan yang luas akan membuat seseorang lebih terbiasa dalam menghadapi perbedaan pandangan dan pendapat. Hal-hal itulah yang banyak mempengaruhi kematangan emosi seseorang ketika berinteraksi.